Pages

www.opulsa.com

KISAH POHON APEL



KISAH POHON APEL



اَللّهُمَّ اغْفِرْلِيْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِيْ صَغِيْرَا



 “Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan Ibu Bapakku, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil”



Pada zaman dahulu, terdapat sebatang pohon apel yang amat besar. Seorang anak lelaki begitu
senang bermain-main di sekitar pohon apel ini setiap hari.Dia memanjat pohon tersebut, memetik serta memakan apel sepuas-puas hatinya, dan adakalanya dia beristirahat lalu terlelap di perdu pohon apel tersebut. Anak lelaki tersebut begitu menyayangi tempat permainannya. Pohon apel itu juga menyukai anak tersebut.

Beberapa waktu kemudian... anak lelaki itu sudah besar dan menjadi seorang remaja. Dia tidak lagi menghabiskan masanya setiap hari bermain di sekitar
pohon apel tersebut. Namun pada, suatu hari dia datang kepada pohon apel tersebut dengan wajah yang sedih. "Marilah bermain-mainlah di sekitarku," ajak pohon apel itu. "Aku bukan anak-anak, aku tidak lagi suka bermain denganmu," jawab remaja itu. "Aku tidak butuh permainan, yang aku butuhkan uang untuk membelinya," tambah remaja itu dengan nada yang sedih. Lalu pohon apel itu berkata, "Kalau begitu, petiklah apel-apel yang ada padaku. Juallah untuk mendapatkan uang. Dengan itu, kau dapat membeli permainan yang kau inginkan."
Remaja itu dengan bahagianya memetik semua apel dipohon itu dan pergi dari situ. Dia tidak kembali lagi setelah itu. Pohon apel itu merasa sedih.
Beberapa waktu kemudian... Pada suatu hari, remaja itu kembali. Dia semakin dewasa. Pohon apel itu merasa bahagia. "Marilah, bermain-mai
nlah di sekitarku," ajak pohon apel itu. "Aku tidak waktu untuk bermain. Aku terpaksa bekerja untuk mendapatkan uang. Aku ingin membuat rumah sebagai tempat perlindungan untuk keluargaku. Apakah kau mau menolongku?" Tanya anak itu.

Maafkan aku. Aku tidak mempunyai rumah. Tetapi kau boleh memotong dahan-dahanku yang
besar ini dan untuk kau jadikan rumah." Pohon apel itu memberikan dahan-dahan yang dimilikinya. Lalu, remaja yang semakin dewasa itu memotong semua dahan pohon apel itu dan pergi dengan bahagianya. Pohon apel itu pun turut bahagia tetapi kemudian merasa sedih kembali karena remaja itu tidak kembali lagi setelah mendapatkan dahan-dahannya.

Suatu hari yang panas, seorang lelaki datang menemui pohon apel itu. Dia sebenarnya adalah anak lelaki yang pernah bermain-main dengan pohon apel itu. Dia telah matang dan dewasa. "Marilah, bermain-mainlah di sekitarku," ajak pohon apel itu. "Maafkan aku, tetapi aku bukan lagi anak lelaki yang suka bermain-main di sekitarmu. Aku sudah dewasa. Aku mempunyai cita-cita untuk berlayar. Malangnya, aku tidak mempunyai kapal.  Apakah kau mau menolongku?" tanyalelaki itu.

Aku tidak mempunyai kapal untuk diberikan kepada kau. Tetapi kau boleh memotong batang pohon ini untuk dijadikan kapal. Kau akan dapat berlayar dengan bahagia," kata pohon apel itu. Lelaki itu merasa amat bahagia dan menebang batang pohon apel itu. Kemudian dia pergi dari situ dengan bahagianya dan tidak kembali lagi setelah memotong batang pohon apel tersebut.  Namun, pada suatu hari, seorang lelaki yang semakin tua, datang menuju pohon apel itu. Dia adalah anak lelaki yang pernah bermain di sekitar pohon apel itu."

Maafkan aku. Aku tidak ada apa-apa lagi untuk diberikan kepada kau. Aku sudah memberikan buahku untuk kau jual, dahanku untuk kau buat rumah, batangku untuk kau buat kapal. Aku hanya ada tunggul dengan akar yang hampir mati..." kata pohon apel itu dengan nada pilu."
Aku tidak mau apelmu karena aku sudah tiada bergigi untuk memakannya, aku tidak mau dahanmu kerana aku sudah tua untuk memotongnya, aku tidak mau batang pohonmu karena aku tidak sanggup untuk belayar lagi, aku merasa lelah dan ingin istirahat," jawab lelaki tua itu.


Jika begitu, istirahatlah di perduku, "kata pohon apel itu. Lalu lelaki tua itu duduk beristirahat di perdu pohon apel itu dan beristirahat. Mereka berdua menangis bahagia.

Dari cerita diatas. Sebenarnya, pohon apel yang dimaksudkan didalam cerita itu adalah kedua-dua ibu bapak kita. Ketika kita masih kecil, kita suka bermain dengan mereka. Ketika kita meningkat remaja, kita perlukan bantuan mereka untuk meneruskan hidup. Kita tinggalkan mereka, dan hanya kembali meminta pertolongan apabila kita didalam kesusahan. Namun begitu, mereka tetap menolong kita dan melakukan apa saja asalkan kita bahagia dan bahagia dalam hidup. Anda mungkin berfikir bahwa anak lelaki itu bersikap kejam terhadap pohon apel itu, tetapi fikirkanlah, itu hakikatnya bagaimana kebanyakan anak-anak masa kini memperlakukan ibu bapak mereka. Hargailah jasa ibu bapak kepada kita. Jangan hanya kita menghargai mereka pada waktu menyambut hari ibu saja setiap tahun.

Ingat ! 
Ridho Allah tergantung pada ridho orang tua kita 
dan murka Allah (juga) tergantung murka orang tua kita.


Semoga cerita ini menjadi inspirasi bagi kita untuk selalu berbakti kepada orang tua baik dimasa hidupnya maupun setelah meninggal.

1 comments:

Rudi Armadani said...

terus berkarya, semoga menjadi inspirasi

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...